Memang isu sara atau rasial sedang menjadi trending topik di dunia bersaing dengan masalah lainnya. Bahkan masalah rasial tersebut juga masuk dalam dunia poker internasional di mana ada seorang pemain poker profesional berdarah Adrika-Amerika bernama Maurice Hawkins mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan saat mengikuti gelaran 2018 World Series of Poker (WSOP) di Las Vegas bulan kemarin.

Dalam turnamen yang digelar di Rio All Suite Hotel and Casino, Las Vegas, Nevada dari tanggal 30 Mei sampai 17 Juli 2018 kemarin itu, Maurice menjadi salah satu kontestan. Hanya saja ketika memasuki event #66 di 2018 WSOP dalam suatu permainan USD 1,500 No-Limit Hold-Em yang semakin memanas, Adrian Sorin Lovin, seorang pemain poker profesional dari Italia harus berhadapan dengan Maurice dalam waktu yang cukup lama.

Sebelumnya, Lovin sempat unggul dan banyak yang memberikan dukungan kepadanya. Bahkan Lovin sempat memberikan gurauan yang terkesan mengolok-olok Maurice. Hanya saja, di tengah-tengah permainan yang cukup panas dan menguras konsentrasi serta stamina tersebut, Maurice sempat membalikkan keadaan.

Di saat itu, Maurice juga bertanya kepada Lovin, bagaimana cara mengucapkan “Kiss my butt” dalam Bahasa Italia. Sontak saja, semua yang ada di tempat tersebut tertawa karena menganggap bahwa ucapan Maurice tersebut adalah sebuah gurauan yang cukup lucu. Namun justru Lovin menanggapinya dengan respon yang kurang bersahabat. Dalam responnya yang diucapkan dalam intonasi sedikit meninggi tersebut, Lovin mengatakan agar Maurice tutup mulut saja.

“Tutup mulutmu Niger. Jika kita tidak sedang berada di WSOP ini, maka aku pastikan akan ada tindakan yang berbeda dariku,” ucap Lovin.

Uniknya, Maurice tidak menanggapi hinaan Lovin tersebut dan terus bermain. Akan tetapi, ada petugas yang merasa bahwa ucapan Lovin tersebut adalah suatu pelanggaran yang harus mendapatkan sanksi tegas. Kemudian, sang petugas melaporkannya ke pihak panitia. Dan akhirnya, Lovin mendapatkan penalti berupa dikeluarkan dalam pertandingan hari itu, sedangkan Maurice berhak memenangi permainan secara mudah.

Maurice Hawkins

Walaupun mendapatkan penalti dan dikeluarkan dari kompetisi hari itu, akan tetapi Lovin tidak didiskualifikasi sampai 2018 WSOP berakhir. Jack Effel selaku direktur pelaksana menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Lovin tersebut tidak dapat ditolerir walaupun sang lawan atau korban tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang berlebihan.

Effel mengatakan bahwa dalam organisasi atau juga dalam kompetisi tersebut dari dahulu sampai kapanpun tidak dapat mentolerir apapun yang bersifat pelanggaran rasial. Maurice sendiri tidak ingin terlalu berkomentar mengenai didiskualifikasinya sang lawan, akan tetapi dia cukup memberikan apresiasi terhadap kesigapan petugas dan panitia terhadap segala isu yang muncul dan digunakan untuk menjatuhkan lawan dalam kompetisi tersebut.

Maurice juga berpendapat bahwa WSOP dan komunitas poker dunia telah mendirikan pondasi tepat untuk melawan aksi rasial dan sejenisnya agar semua pihak dapat berdiri bersama dan juga mendapatkan hak yang sama pula dalam segala bidang, termasuk ketika bermain dalam satu meja.

Dalam akun Twitternya, Maurice menuliskan bahwa semua orang sama kedudukannya dalam segala hal, termasuk dalam WSOP tersebut. Jadi ketika ada seseorang yang memainkan kartu rasialnya, maka ada tindakan tegas dan nilai yang cukup besar untuk dapat ditebus.

“Kita semua sama dalam World Series. Ketika kamu mengatakan “Shut up Niger” maka yang akan kamu dapatkan adalah sebuah penalti sepanjang hari, walaupun itu bukan sebuah diskualifikasi, akan tetapi cukup merugikan. Saya memang tidak dapat membentengi diri dari segala hal yang bersifat rasial, tapi saya tidak menyukainya,” tulis Maurice dalam akun Twitter pribadinya.

Terlepas dari hal tersebut, Maurice sampai sekarang menduduki peringkat 69 di Global Poker Index Ranking dengan total kekayaan mencapai USD 3,2 juta lebih.